Minggu, 03 Juni 2012

Megalith Hilang di Tengah Pasar Kaget


Suasana diskusi Arman AZ (kiri), Irfan Witarto (tengah), Joni (kanan)
Lahat, HL-Dalam diskusi Seni Budaya Lahat antara Arman AZ penulis dari Lampung dengan Irfan Witarto pengamat seni budaya Lahat, Joni Hariansyah pecinta seni budaya Lahat dan Soufie Retorika, jurnalis, Minggu, (3/6) bertempat di Komuitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] Lahat di Bukit Pagarsari, terungkap bahwa menhir yang berada di Talang Jawa simpang pasar Senggol atau pasar Kaget Lahat kini telah hilang tidak tahu rimbanya di mana.
Menurut Irfan batu itu sejenis monolith, dan belum terdaftar di Balai Arkeologi, tetapi bentukya seperti megalith.

“Megalith yang kini berada di tengah pasar itu, dulunya berada di tegah kebun ubi. Karena perkembangan jaman dan kebutuhan lokasi maka batu megalith itupun ikut disingkirkan,” kata Irfan.

Irfan Pemerhati seni Budaya Lahat
Pada jaman kepemimpinan Bupati Kafrawi Rahim antara 1992-1997 batu yang berada di tengah-tengah persimpangan Talang Ubi yang kini berada di tengah-tengah Pasar Senggol atau Pasar Kaget itu dibuatkan pagar tapi sekarang dicopot. Selain itu dibuatkan papan peringatan yang bertuliskan Jangan Membuang Sampah dan Merusak benda ini, cuman tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa batu itu merupakan cagar budaya.

“Ada tiga batu megalith yang terdapat di simpang pasar kaget itu, dua yang besar dan ada satu yang kecil. Di batu itu terdapat tulisan dan ada gambarnya, ada bentuk-bentuk yang dibuat manusia, ada pahatan yang sudah terpola,” ujar Irfan.

Irfan memperkirakan batu megalith itu merupakan rangkaian dari ribuan megalith yang terdapat di Kabupaten Lahat. Setelah ada relokasi dari Pasar Belanda di jalan Inspektur Yazid ke Gang Senggol sekitar tahun 2004 batu itu menjadi terganggu.

“Dari tiga batu itu, batu yang besar terdapat ukiran mirip arca kodok, jadi batu itu ada bentuk anatomisnya,” katanya.

Sementara pendapat Joni Hariyansyah bahwa setelah relokasi Pasar Belanda ke Gang Senggol, batu itu menjadi tempat meletakkan meja-meja dagangan atau tiang-tiang kios.

“Kira-kira tahun 2006-2007 batu itu sudah tidak ada lagi,” kata Joni.

Menurut Joni batu itu terdiri dari 3 buah, yang paling besar tingginya kira-kira 120cm lebarnya 120cm ada semacam ukiran di batu itu.

“Sayang kini batu itu entah kemana,” pungkas Joni. [jajangrkawentar]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar