Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juni 2012

Ditemukan Megalith Batu Betiang di Kecamatan Pendopo dan Muara Pinang


 
Harian Lahat- Penemuan megalith jenis dolmen oleh warga di Kecamatan Pendopo dan kecamatan Muara Pinang Kabupaten Empat Lawang sudah sejak lama tetapi tidak pernah ada penelitian. Dolmen yang ada di Kecamatan Pendopo berada di Dusun Gunung Meraksa lokasinya di belakang MTs Al Khoir di tempat perkebunan warga.
Menurut Erli (30) warga Gunug Meraksa Lama, guru Sejarah di SMA N 2 Pendopo  disamampaikan Zulkifli, S.Pd  kepada HarianLahat.com bahwa dirinya mengetahui adanya dolmen tersebut sejak lama, tapi karena ada HarianLahat.com maka dirinya baru bisa membuka cerita.
“Dolmen itu terdapat di Desa Gunung Meraksa Baru Kecamatan Pendopo. Tempatnyo idak jauh di belakng MTs Al Khoir, tapi kalu yg di seberang sungai Lintang Kecamatan Muara Pinang agak jauh, kira-kira kalu bejalan sekitar 3 jam dari Ibu Kota Kecamatan,” kata Erli.
Dolmen atau meja batu merupakan tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Di bawah dolmen itu biasanya sering ditemukan kubur batu. Di Sumatera bagian selatan dolmen memang sering ditemukan.
Kalu di belakang MTs tu cuma satu itu lah, tapi ado jugo info laen situs-situs itu jugo ditemui di seberang sungai Lintang bagian Muara Pinang di sini disebut Batu Betiang adonyo di Bukit Batu, tapi kami belum bisa pergi ke sano” lanjut Erli.
Zulkifli S.Pd guru di SMAN 2 Pendopo, mengharapkan kepada Balai Arkeologi Palembang supaya meneliti penemuan dolmen tersebut dan kepada pemerintah Kabupaten Empat Lawang untuk segera menginfentarisir situs megalitikum yang ada di kabupaten Empat Lawang sebagai aset budaya dan pariwisata.
“Masih banyak masyarakat kito yang belum tau adonyo peninggalan prasejarah ini, jangan sampai benda cagar budaya ini menjadi tidak berguna. Kalau biso dimanfaatkan atau menjadi ciri dari daerah kito,” kata Zulkifli.
Dia meyakikan kalau sudah ada penelitian dan masyarakat mengetahuinya pasti ada penemuan lain yang tidak pernah di ceritakan oleh masyarakat dusun sini.
“karena banyak masyarakat yang belum ngerti, jadi wajar kalau mereka tidak memberitahukan kepada pemerintah, mungkin kalau masyarakat sudah punya contoh maka mereka bisa perduli akan peninggalan sejarah masa lampau ini,” ujarnya.  
[jajangrkawentar] 

Senin, 04 Juni 2012

Bujang Bedengkang, Menggugat Kebatilan untuk Lampung

Yudistio Ismanto (kiri) dan Arman AZ (kanan)
Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] Lahat menyerahkan dua buku kepada Arman AZ cerpenis yang juga pengurus Dewan Kesenian Lampung (DKL) komite sastra Senin, (4/6). Penyerahan dua buku karya seorang Aktivis pemuda Lahat Ahmad Syahri Kurnianto, S.HI berjudul Menggugat Kebatilan dan buku Bujang Bedengkang yang merupakan buku kumpulan Puisi bahasa Lematang karya Yudistio Ismanto, Jajang R Kawentar dan Pinasti S Zuhri. Bujang Bedengkang diambil dari judul salah satu puisi karya Yudistio Ismanto.
Buku Menggugat Kebatilan dan Bujang Bedengkang disampaikan langsung Yudistio Ismanto penyair Lahat dedengkot KSLS kepada Arman AZ di markas KSLS di Bukit Pagarsari Lahat.
Menurut Yudistio kedua buku itu merupakan hasil produksi dari KSLS selama ini, "Kita ingin menyampaikan hasil karya jeme Lahat kepada masyarakat

Sumsel Kalah Dua Kali oleh Pabrik Pupuk


Sumsel Kalah Dua Kali oleh Pabrik Pupuk

Irfan Sutarto Pengamat Budaya Lahat
Terkait pengalihan nama PT Pupuk Sriwidjaja menjadi PT Pupuk Indonesia (Persero) mulai 30 Mei 2012, Irfan Sutarto (42) Pengamat Budaya Lahat ikut bekomentar, bahwasannya Sumatera Selatan sudah kalah dua kali. Menurut Irfan lokasi pabrik Pupuk Sriwidjaja itu dibangun berada di kawasan artepak peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan kini nama pabrik pupuk yang berlokasi di ibu kota Sumatera Selatan itu menghilangkan nama Sriwidjaja.

“Sumatera Selatan kalah dua kali, pertama, mengalah dengan mengorbankan kawasan artefak Sriwidjaja sebagai lokasi pabrik pupuk itu dan kedua kini nama Sriwidjaja dikorbankan juga menjadi Indonesia, semua atas nama Indonesia dan demi bangsa serta negara Indonesia” kata Irfan.
Dilansir dari portal PT Pupuk Sriwidjaja perubahan nama dari PT Pupuk Sriwidjaja (Holding) menjadi PT Pupuk Indonesia (Persero) dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) tersebut, termasuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi pengadaan gas alam sebagai bahan baku pupuk urea.
Menteri BUMN Dahlan Iskan yang meresmikan perubahan nama dan logo tersebut memuji keputusan manajemen PT Pupuk Indonesia yang dengan cepat melakukan berbagai perubahan selama 5 bulan terakhir untuk memacu kinerja.
“Dalam dunia korporasi, kecepatan merupakan hal penting, karena banyak kesempatan yang hilang jika kita tidak cepat meraihnya,” ujar Dahlan Iskan saat meresmikan logo dan nama baru tersebut di Jakarta.
Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja yang dirubah menjadi PT Pupuk Indonesia Arifin Tasrif mengatakan perubahan nama dan logo tersebut, maka nantinya hanya ada satu nama merek pupuk bersubsidi.
 “Penggunaan satu merek ini, juga dimaksudkan untuk menghilangkan fanatisme merek. Kami sudah sosialisasikan ke tingkat petani dan semua berjalan dengan baik,” katanya.
[jajangrkawentar]

Minggu, 03 Juni 2012

Megalith Hilang di Tengah Pasar Kaget


Suasana diskusi Arman AZ (kiri), Irfan Witarto (tengah), Joni (kanan)
Lahat, HL-Dalam diskusi Seni Budaya Lahat antara Arman AZ penulis dari Lampung dengan Irfan Witarto pengamat seni budaya Lahat, Joni Hariansyah pecinta seni budaya Lahat dan Soufie Retorika, jurnalis, Minggu, (3/6) bertempat di Komuitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] Lahat di Bukit Pagarsari, terungkap bahwa menhir yang berada di Talang Jawa simpang pasar Senggol atau pasar Kaget Lahat kini telah hilang tidak tahu rimbanya di mana.
Menurut Irfan batu itu sejenis monolith, dan belum terdaftar di Balai Arkeologi, tetapi bentukya seperti megalith.

“Megalith yang kini berada di tengah pasar itu, dulunya berada di tegah kebun ubi. Karena perkembangan jaman dan kebutuhan lokasi maka batu megalith itupun ikut disingkirkan,” kata Irfan.

Irfan Pemerhati seni Budaya Lahat
Pada jaman kepemimpinan Bupati Kafrawi Rahim antara 1992-1997 batu yang berada di tengah-tengah persimpangan Talang Ubi yang kini berada di tengah-tengah Pasar Senggol atau Pasar Kaget itu dibuatkan pagar tapi sekarang dicopot. Selain itu dibuatkan papan peringatan yang bertuliskan Jangan Membuang Sampah dan Merusak benda ini, cuman tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa batu itu merupakan cagar budaya.

“Ada tiga batu megalith yang terdapat di simpang pasar kaget itu, dua yang besar dan ada satu yang kecil. Di batu itu terdapat tulisan dan ada gambarnya, ada bentuk-bentuk yang dibuat manusia, ada pahatan yang sudah terpola,” ujar Irfan.

Irfan memperkirakan batu megalith itu merupakan rangkaian dari ribuan megalith yang terdapat di Kabupaten Lahat. Setelah ada relokasi dari Pasar Belanda di jalan Inspektur Yazid ke Gang Senggol sekitar tahun 2004 batu itu menjadi terganggu.

“Dari tiga batu itu, batu yang besar terdapat ukiran mirip arca kodok, jadi batu itu ada bentuk anatomisnya,” katanya.

Sementara pendapat Joni Hariyansyah bahwa setelah relokasi Pasar Belanda ke Gang Senggol, batu itu menjadi tempat meletakkan meja-meja dagangan atau tiang-tiang kios.

“Kira-kira tahun 2006-2007 batu itu sudah tidak ada lagi,” kata Joni.

Menurut Joni batu itu terdiri dari 3 buah, yang paling besar tingginya kira-kira 120cm lebarnya 120cm ada semacam ukiran di batu itu.

“Sayang kini batu itu entah kemana,” pungkas Joni. [jajangrkawentar]

Kunjungan Cerpenis Lampung ke Kota Lahat

M. Arman A. Z.

Arman AZ berada di camp Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] Lahat

Arman AZ Cerpenis lampung berkunjung ke camp Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] Lahat di Bukit Pagarsari Sabtu, (2/6), ingin  mengetahui lebih banyak mengenai berbagai seni budaya Lahat dan berbagai peninggalan purba yang terdapat di Lahat terutama mengenai berbagai cerita lokal.

Berbagai cerita dan bukti sejarah yang ada di Lahat sangat menarik dan hal ini bisa dijadikan investasi untuk periwisata. 

"Saya mendapat banyak informasi tentang Lahat lewat media internet, dan saya tertarik mengenai berbagai situs megalith yang ada di daerah Lahat ini. Selain itu sungai Lematang juga bagi saya sangat menarik dan indah. Selama ini saya hanya melihat sungai Lematang dan bukit Serelo ketika melewati Lahat menggunakan kendaraan. Terutama photo-photonya di internet. Kali ini saya bisa langsung menuju tempat megalith dan sungai Lematang itu," kata Arman.

Kecenderungan orang sekarang ingin lebih banyak mengetahui sejarah dan budaya daerah lain atau negara lain. Barangkali hal inilah yang bisa dimanfaatkan untuk menarik orang luar berkunjung ke Lahat yang kaya berbagai sejarah, seni budaya dan alamnya yang indah. 

"Komunitas Sastra Lembah Serelo bisa menjadi fasilitatornya," ungkap Arman. [jajangrkawentar] 

      

M. Arman A.Z. lahir di Telukbetung, 30 Mei 1977, di Rumah Sakit Bersalin Santa Anna. Lahir sebagai anak kedua dari enam bersaudara, Arman memiliki seorang kakak perempuan, Masayu Azizah, dan empat orang adik, yaitu M. Afrizal A.Z., Anita, M. Amri A.Z., dan M. Agus Cik. Namun adik bungsunya, M. Agus Cik meninggal dunia pada tahun 1984. Arman lahir dari pasangan M. Arifin A.Z. dan Rafeah, keduanya bersuku Palembang.
Jalan Hasanudin di kawasan Kupangkota, Telukbetung Utara menyimpan kenangan tersendiri dalam hidup Arman karena di sanalah ia menghabiskan seluruh masa kecil, remaja, hingga dewasa saat ini. Bagi Arman, masa kecil dan masa remaja adalah masa yang paling indah. Meskipun tidak bisa leluasa bermain dengan teman-teman sebaya karena ketatnya peraturan yang diterapkan oleh orang tuanya, Arman tetap menghabiskan waktu bermain bersama saudara-saudaranya. Namun demikian, tidak jarang teman-teman sekolah Arman bertandang dan bermain di rumahnya. “Waktu masih di bangku sekolah dasar, teman-teman sekolah sering menghabiskan waktu di rumah. bermain kelereng, burung dara, atau sepak bola. Begitu juga dengan teman-temannya ketika SMP, mereka sering main dan mengerjakan tugas sekolah di rumah Arman. Terlebih lagi ketika SMA (SMA Negeri 1 Tanjungkarang). Hampir setiap malam minggu, teman-teman menghabiskan malam minggu mereka di rumah Arman. Kegiatan yang sering dilakukan hanya sekadar ngobrol dan bergosip tentang wanita-wanita yang menjadi idola di sekolah. Tetapi tidak jarang pula mereka menghabiskan malam minggu dengan memanggang ayam atau membakar ikan. Oleh karena itulah, tidak heran jika rumah Arman kemudian dijadikan sebagai tempat mangkal teman-teman karib.
Namun, tidak seluruh masa kecil dan remaja Arman dihabiskan untuk bermain dengan teman-temannya karena selain menerapkan peraturan yang ketat, orang tua Arman juga mengajarkan kedisiplinan bagi anak-anak mereka. Setiap sore, selepas salat Ashar, Arman dan saudara-saudaranya belajar mengaji pada nenek mereka, yang kebetulan tinggal di rumah orang tua Arman. Sayangnya, tahun 1991, neneknya tersebut meninggal dunia. Sebelum kepergian neneknya, adik bungsu Arman telah lebih dulu meninggal dunia, dan sepuluh tahun sesudah kepergian sang nenek, tepatnya tanggal 21 Juni 1991, Arman kembali harus kehilangan satu orang yang dia sayangi. Ibu Arman meninggal dunia setelah beberapa bulan tergolek lemah dan seminggu dirawat di Rumah Sakit Abdul Moeloek, Bandarlampung. Terlalu banyak kenangan yang tersimpan dalam ingatan Arman tentang ibunya, sehingga wajar jika beberapa bulan setelah kepergian ibunya merupakan masa yang sulit bagi Arman.
Sebagai anak lelaki paling tua dalam keluarga, Arman berusaha semaksimal mungkin menjalin hubungan yang akrab dan harmonis dengan saudara-saudaranya. Meski memiliki kesibukan masing-masing, mereka masih sempat meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol tentang apa saja secara terbuka. Jika sesekali ada perbedaan pendapat antara Arman dengan saudara yang lain, dia rasa itu hal yang wajar dalam sebuah keluarga.
Setelah sepuluh tahun mengenyam pendidikan di sekolah swasta, Xaverius, tahun 1992 Arman melanjutkan pendidikan di sekolah negeri, yaitu SMA Negeri 1 Tanjungkarang. Selepas SMA, Arman enggan untuk kuliah. Ia hanya mengikuti pendidikan diploma I di LPK Stamford Telukbetung. Setahun mengikuti pendidikan di LPK tersebut, pikiran Arman menjadi terbuka tentang pentingnya arti pendidikan formal. Oleh karena itu, tahun 1997, Arman memutuskan untuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung. Namun, empat tahun kemudian, karena faktor kesibukan dan kejenuhan, Arman memilih untuk berhenti kuliah. Hal ini nekat dia lakukan karena dia percaya jika pendidikan formal belum tentu dapat menjamin masa depan seseorang.
Beberapa pendidikan nonformal yang pernah diikuti pria berkacamata ini, antara lain kursus Bahasa Inggris di Lembaga Bahasa LIA, kursus komputer operator di LPK Prima Perdana (1994), dan kursus komputer programer di LPK Stamford (1996).
Setahun setelah mengikuti program D1 Komputer, tepatnya tahun 1996, untuk pertama kali Arman mengenal dunia kerja dengan memasuki Lembaga Pendidikan dan Kursus (LPK) Genius Computer dan bekerja sebagai Instruktur Komputer. Di samping itu, Arman juga mengajar di dua tempat yang berbeda, yaitu LPK Stamford dan LPK Empat Putera.
Masih berhubungan dengan komputer, pertengahan tahun 1998 sampai 2000, Arman bekerja sebagai operator komputer di PT CIDES Persada Consultant. Perusahaan konsultan yang berkantor pusat di Jakarta ini berperan sebagai konsultan manajemen pada Basic Education Project, Kanwil Departemen Agama Provinsi Lampung. Tahun 2000, masih di perusahaan yang sama, posisi bekerja Arman berubah menjadi Billingual Secretary. Posisi ini bertahan hingga pertengahan tahun 2002 ketika kontrak kerja Arman di perusahaan tersebut selesai. Selama bekerja di PT CIDES Persada Consultant, Arman juga diperbantukan sebagai Operator Data Entry pada Education and Management Information System (EMIS Project), sebuah proyek yang juga berada dalam Kanwil Departemen Agama Provinsi Lampung.
Sekeluarnya dari PT CIDES Persada Consultant, Arman sempat bekerja di sebuah perusahaan air minum mineral lokal dan ditempatkan di sebuah kecamatan di kabupaten Lampung Selatan. Namun, pekerjaan ini tidak bertahan lama. Beberapa bulan kemudian, atau tepatnya Februari 2003, Arman mencoba peruntungan lain dengan bekerja sebagai tenaga marketing di PT HILON Indonesia, sebuah perusahaan modal asing yang berkantor pusat di Tangerang dan membuka cabang di Lampung. Di perusahaan ini Arman bertugas memasarkan perlengkapan kamar tidur, dengan daerah pemasaran di sekitar Bandarlampung dan Lampung Selatan.
Sebelum bekerja di PT HILON Indonesia, Arman pernah menjadi redaktur sebuah tabloid LSM. Karena beberapa alasan, setelah beberapa edisi, Arman mengundurkan diri. Masih bergelut di bidang yang sama, yaitu tulis menulis, akhirnya sejak tahun 2004 hingga sekarang, Arman hidup dari menulis karya sastra seperti, cerita pendek, cerita anak, dan esai. Profesi terakhir inilah yang terus mengiringi langkah hidup Arman hingga dikenal sebagai salah satu sastrawan Lampung.
Berbekal hobi membaca, Arman mulai berkenalan dengan dunia sastra ketika di Bangku SMP. Hampir setiap minggu, dia meminjam buku-buku sastra di perpustakan sekolah, mulai dari buku-buku puisi, kumpulan cerpen, hingga novel. Pada saat itu, Arman begitu menyukai novel-novel remaja seperti Balada Si Roy (Gola Gong), Lupus (Hilman), Lima Sekawan (Enid Blyton), dan buku-buku lainnya. Selain memiliki hobi membaca dan menekuni dunia tulis-menulis, Arman juga senang mendengar musik dan travelling. Hobi dan kebiasaan-kebiasaan inilah yang secara tidak langsung memengaruhi Arman untuk menciptakan sebuah karya sastra. Inspirasinya untuk berkarya sering kali datang setelah membaca buku, mendengarkan lagu, atau sepulangnya travelling dari suatu tempat. Hobinya ini berlanjut hingga Arman duduk di bangku SMA. Tahun 1994, akhirnya Arman mulai menekuni dunia sastra dan bersama beberapa teman yang juga menyukai karya sastra, terutama puisi, Arman mulai belajar menulis puisi. Puisi-puisi hasil karya Arman pada saat itu hanya bersifat situasional, tentang perasaan kepada lawan jenis atau persahabatan. Baginya, cinta adalah sesuatu yang pelik dan rumit untuk dimengerti dan setiap orang tentu memiliki pengertian yang berbeda tentang arti cinta.
Dahulu, ketika jatuh cinta pada wanita, Arman hanya mampu menyalurkan perasaan itu melalui puisi-puisi sederhana ciptaannya. Namun kini, Arman terbiasa dan lebih leluasa menuangkannya ke dalam cerpen. Beberapa cerpen Arman memang lahir karena terinspirasi oleh wanita-wanita yang pernah dia cintai. Arman menganggap wanita sebagai mitra dalam proses kehidupannya. Arman menulis dalam salah satu esainya bahwa “Hidup ini akan terasa sunyi, sepi, dan tidak berarti tanpa kehadiran makhluk bernama perempuan. Sebagaimana awal terciptanya umat manusia di alam semesta. Tuhan menciptakan Hawa untuk menemani Adam yang terlebih dahulu hidup dan sendirian di dunia. Tuhan bukan menciptakan Hawa dari kaki Adam untuk dijadikan alasnya, melainkan dari tulang rusuknya agar mereka dapat menjadi mitra sejajar. Dari kenyataan ini, bisa dibilang kaum laki-laki tidak bisa hidup tanpa perempuan. Selain harta dan tahta, perempuan pun memendam pesona sihir yang bisa membuat lelaki terpesona, bertekuk lutut, bahkan terlempar ke dalam jurang kehancuran.”
Tidak heran jika sebagian besar cerpen Arman tidak berada jauh dari tema yang masih berkaitan dengan wanita, mulai dari kenangan dengan pacar, nostalgia bersama teman, figur seorang ibu, hingga seorang nenek pernah pula diangkatnya ke dalam cerpen-cerpennya. Namun, cerpen-cerpen Arman tidak melulu terinspirasi cinta dan wanita saja. Bagi Arman, semua aspek kehidupan ini menarik untuk dituangkan menjadi karya sastra. Begitu pula dengan proses pembuatan cerpen yang menurutnya merupakan sebuah proses individu, dan orang-orang di sekelilingnya secara tidak langsung juga ikut berperan dan memberi inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya.
Proses kreatif yang terjadi dalam pembuatan karyanya pun mengalir sesuai dengan peristiwa yang dia alami sendiri. Semua karya yang telah dihasilkannya, baik yang pernah maupun tidak pernah dimuat, tentu memiliki sejarah dan nilai masing-masing. Oleh karena itulah, sebagian besar cerpen Arman termasuk aliran realis. Seperti cerpennya yang berjudul “Kupu-kupu di Batu Nisan”. Cerpen ini terinspirasi dari sebuah kejadian nyata yang dialami sendiri oleh Arman. Ada satu masa Arman kerap menziarahi makam ibunya. Di sana Arman melihat seekor kupu-kupu kuning terang dan hinggap di batu nisan ibunya. Entah mengapa, visualisasi kupu-kupu yang hinggap di batu nisan itu terus bercokol dalam benaknya. Akhirnya, Arman merekonstruksi kejadian tersebut ke dalam tulisan hingga lahirlah cerpen “Kupu-kupu di Batu Nisan”.
Pada awal masa kepenulisan Arman (1996-1999), tidak ada satu sastrawan pun yang dikenal Arman. Saat itu Arman hanya sebatas mengenal nama dan karya-karya yang dihasilkannya. Sedikit demi sedikit Arman mulai tahu beberapa sosok sastrawan Lampung, seperti Isbedy Stiawan ZS dan Syaiful Irba Tanpaka. Arman sebagai sastrawan muda Lampung merasa bangga bisa mengenal dan berinteraksi dengan mereka. Walau kerap membaca karya-karya mereka, Arman mengakui bahwa dia tidak bisa menanggapi karya mereka tersebut secara detail. Namun sejauh ini, Arman percaya bahwa karya mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menurut Arman, karya sastra yang menarik adalah karya sastra yang memiliki keunggulan dalam segi tematik, literer, estetika, dan etika. Sastra yang berkualitas adalah sastra yang bisa memberikan pencerahan secara tidak langsung kepada pembacanya. Meskipun karya sastra bisa multitransfer, setidaknya ada nilai atau hikmah yang bisa dipetik pembaca usai membacanya.
Dari sekian banyak karya yang dihasilkan dan diterbitkan Arman, tentu tidak terlepas dari pengamatan sastrawan lain. Tak sedikit sastrawan yang memberi komentar terhadap cerpen yang dibuatnya. Misalnya untuk kumpulan cerpen dalam Sekuntum Mawar di Depan Pintu, Isbedy mengomentari bahwa dengan gaya kisah realis, cerpen-cerpen dalam buku tersebut membuka pintu untuk dimasuki. Tema-tema cerpennya sangat kaya dan gaya kisahnya pun penuh rima yang terkadang puitik serta penuh panorama indah bagi yang suka mengembara.
Sementara menurut Wayan Sudana, “Cerpen-cerpen dalam buku Embun di Ujung Daun menunjukkan cerminan dari cerita, cinta, kenangan, kerinduan, kematian, ketidakadilan dan berbagai komedi-tragedi kehidupan manusia. Arman meramu serpihan kisah itu menjadi deskripsi dan narasi yang indah sehingga karakter tokoh mewujudkannya sendiri, kadang serasa dekat dengan kehidupan kita.”
Satmoko Budi Santoso, seorang sastrawan dari Yogyakarta mengomentari, “Sebagai pengisah cerita, Arman mempunyai sensibilitas merambah kompleks psikologis keluarga, ada subversivitas dalam keluarga dan itulah yang suci untuk dipertahankan.” Sementara menurut Helvy Tiana Rosa, cerpen-cerpen Arman menarik, menyentuh, dan selalu menyisakan sesuatu usai kita membacanya.
Selama masa kepenulisan Arman, ada beberapa penghargaan yang pernah diraihnya, antara lain penghargaan Lomba Menulis Teknologi Telekomunikasi dan Informasi (Indosat, Kompas, Republika, Gatra, dan LIPI, 1999), meraih piagam untuk Lomba Menulis (Perpustakaan Nasional Provinsi Lampung, 2000), dan piagam penghargaan Lomba Menulis Cerita Anak (Gema Insani Press, 2001). Tahun 2003, salah satu cerpen Arman yang berjudul “Jenny Berdiri di Liang Lahat” masuk nominasi 30 besar Lomba Cipta Cerpen yang diadakan Dinas Pendidikan Nasional, CWI, dan KSI. Selain itu, cerpen lainnya yang berjudul “Perempuan yang Menyisir Rambutnya dengan Sebilah Belati” berhasil masuk nominasi lima besar Sayembara Penulisan Cerpen Lampung Post, Agustus 2004.
Tahun 2003 menjadi peserta Kongres Cerpen Indonesia III di Bandarlampung. Juli 2004 mengikuti Temu Sastrawan 9 Provinsi di Anyer, Banten, sekaligus menjadi peserta Mitra Praja Utama. Pernah menghadiri Milad dan Munas Forum Lingkar Pena di Yogyakarta, Februari 2005.


Arman AZ saat berada di camp Komunnitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] Lahat
Berikut ini karya-karya M. Arman A.Z..

1. Cerita Pendek
1) Antologi Cetik, Dewan Kesenian Lampung, 1999.
2) Grafiti Imaji, Yayasan Multimedia Sastra, April 2002.
3) Cermin dan Malam Ganjil, FBA Press, Juni 2002.
4) 20 Tahun Cinta, Senayan Abadi, Juli 2003.
5) Wajah di Balik Jendela, Lazuardi, September 2003.
6) Mengetuk Cintamu, Senayan Abadi, September 2003.
7) Anak Sepasang Bintang, FBA Press, 2003.
8) Bunga-bunga Cinta, Senayan Abadi, Januari 2004.
9) Yang Dibalut Lumut, CWI-Diknas, Oktober 2004.
10) Mencintaimu, Logung Pustaka, Juli 2004.
11) Embun di Ujung Daun (Kumpulan Cerpen Tunggal), Logung Pustaka, Februari 2005.

2. Novel
1) Loper Koran Cilik diterbitkan oleh Gema Insani Press, 2005.

3. Cerita Anak
1) Payung Warna-Warni, DAR! Mizan, Juli 2003.
2) Senjata Makan Tuan, Beranda Hikmah, Oktober 2004.
3) Dena dan Bidadari, Beranda Hikmah, 2005.

Senin, 14 September 2009

Tanah Harapan

Tanah Harapan
Oleh : Juan Fransiska | 14-Sep-2009, 15:06:07 WIB

Sebenarnya aku ingin menceritakan semua ini didepanmu, di taman kota seperti dulu, ditemani secangkir kopi sumatera, tanah kelahiranku, ditengah dinginnya udara malam turun dari arah Bukit Barisan. Dingin udaranya, menusuk tulang kala malam, membuat sebagian penduduk dan pengunjung kota membencinya sekaligus merindukan bau lembabnya.

Aku ingat betul, waktu pulang kampung pertama kali, semasa SMA dulu, ketika malam datang, butuh dua selimut tebal untuk dapat tertidur. Aku sendiri terpaksa tidur diruang tengah, melintang dengan yang lainnya, karena tak ada kamar untuk laki-laki dalam budaya kami. Laki-laki dilebihkan ruangnya pada kehormatan memiliki tanggungjawab budaya terhadap seluruh anggota keluarga dalam garis keturunan ibunya, para kemenakan.

Pada saat pagi datang, aku selalu saja diserang penyakit malas bangun dan mandi, bahkan gosok gigi sekalipun. Kakak-kakakku yang lain selalu membangunkanku diruang tengah sehabis nonton TV semalaman, mereka selalu berteriak atau mencubitku jika malas sholat shubuh. Jika sudah seperti itu kejadiannya akupun seperti biasanya, setelah adzan shubuh segera bergegas mengambil handuk, mandi supaya tidak lagi berasa dingin udara pagi dan terhindar dari teriakan selanjutnya.

Pulang kampung kali ini, terasa sedikit berbeda, aku dan mungkin yang lainnya merasakan hal yang sama, secara perlahan sentuhan dinginnya berkurang dimakan tiupan pertumbuhan kota dan penduduk yang datang entah darimana.

Sekilas kulihat pasar tradisional semakin semerawut, sementara pusat perbelanjaan modern berdiri tegak ditengahnya, para pedagang kecil tak kebagian ruang, berdesakan di trotoar jalan mengambil tempat pejalan kaki semestinya berjalan, angkutan kota berhenti seenaknya, belum lagi, tai dan bau pesing kencing kuda delman, Terakhir tumpukan sampah. Kunjungan wisatawan disaat suasana liburan panjang, seperti sekarang ini, menyebabkan sampah berserakan dimana-mana, tidak taratik, seolah tak hirau dengan tugu Adipura yang tegak berdiri di sudut pasar.

Sabtu pagi ini kulihat Gunung Barani dan Gunung Siluet Bukit tidak lagi diselimuti kabut. Mungkin yang terjadi disana tidak berbeda jauh dengan tempatku bekerja, hutan dan lereng bukitnya telah berubah jadi peladangan penduduk, tak ada lagi pokok kayu besar tinggi tempat kabut berkumpul,menggelantung dan berkabar kepelosok negeri bahwa pagi ini dingin dipenuhi udara segar.

Ada benang merah antara apa yang kulihat dan terjadi dikampung dengan apa yang kulihat dan kualami dirantau tempatku bekerja dan belajar hidup, dari tiada menjadi ada atau justru sebaliknya, berproses menjadi sesuatu. Walaupun kau tak ada, inilah yang hendak ku ceritakan padamu, ada yang berubah seiring waktu. Biarkanlah angin menyampaikan cerita ini padamu.

Kalaupun bahasanya sedikit ku perhalus, yang terjadi semacam pemaknaan dan pembelajaran terhadap tempat dan waktu yang berbeda, ketika aku berada disini, terhubung oleh folklore 3 negeri yang disimbolkan dengan sebuah binatang melata raksasa berbisa, bernama ular. Kemudian dalam sebuah pertarungan berbulan-bulan, dua orang sakti, berhasil membunuhnya. Tumbuhnya kemudian terpecah menjadi 3 bagian, terpelanting ke 3 penjuru negeri. Bagian kepala ke barat, bagian perut ketengah dan bagian ekor ke selatan. Dan sekarang aku tepat berada dibagian perut ular sebagaimana dikisahkan folklore dari buku yang sempatku baca di perpustakaan kabupaten yang kuberi nama simpang bukit.

Seperti biasa, setiap perjalanan memiliki kisahnya sendiri, begitu juga dengan sebuah negeri, selalu memiliki kekhasannya. Dan yang paling kutandai betul disini, masakan penduduk terasa begitu asin di lidah. Pada satu kesempatan, aku pernah berasumsi, tingginya tingkat konsumsi garam dalam tubuh, menyebabkan tingginya tingkat emosional pengkonsumsinya. Asumsi ini sendiri ku ambil dan kuhubungkan dari variable harian yang kutemui dilapangan ketika berkunjung, bersilaturahmi dan berunding dengan penduduk setempat, sangat terasa tingkat emosional begitu tinggi- penaik darah, keras hati, pemarah, slip-slip sedikit omongan bisa fatal akibatnya.

Dari situ aku punya pikiran guyon mungkin juga ngaco, untuk melakukan perubahan karakter penduduk tempatku ini, sepertinya sulit dilakukan, kecuali dengan mengurangi tingkat konsumsi garam pada masakan penduduk. Kalaupun benar, itu baru akan terbukti pada satu generasi berikutnya. Malah ada yang menyampaikan kepadaku, karena letaknya di wilayah perut, maka kenyangkan dulu perutnya.

Terlepas dari adanya stigma dalam folklore tersebut, tampaknya ini ada benarnya juga, ungkapan kenyangkan perutnya terlebih dahulu, bukan dalam ungkapan makan dulu baru berunding, tak dapat dielakan dalam setiap runding-runding pekerjaanku yang aku sendiri lebih senang menyebutnya sebagai sosial support plantation, sementara temanku yang lain secara saklek menyebutnya sebagai marketing tanah/lahan, cukup berkonotasi kuantatif dan kapitalis.

Balik lagi kesoal kenyangkan perutnya tadi, semuanya mengkerucut pada kalimat uang dan lokaan (peluang kerja) mengambil bentuk utamanya sebagai media sekaligus strategi penyelesaian konflik ataupun runding antar pihak. Sebuah sari pati nilai budaya yang sebenarnya masih aku pertanyakan sampai saat ini.

Sedari dulu, aku begitu tertarik dengan isu konservasi hutan yang disampaikan kawan-kawan sebuah LSM atau sebagaimana tergambar dalam film dokumenter Save the Earth. Apalagi jika beririsan dengan komunitas adat lokal yang disebut sebagai orang dusun dan sebagian lainnya sebagai komunitas adat terpencil. Dimana ujung dari pada itu semua mengarah pada satu pikiran, hutan adalah untuk semua mahluk bumi, untuk masa depan yang lebih baik.

Aku sendiri tidak pernah membayangkan sebelumnya, akan bekerja dalam posisiku sekarang, bertolak belakang dengan bayangan awalku akan idealism sebuah pekerjaan. Sekarang aku bergabung dalam sebuah pekerjaan yang dinilai banyak kalangan, terutama aktivis lingkungan, telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan ekosistem hutan.

Aku juga kurang tahu persis, apakah lahan-lahan yang tersisa itu masih bisa disebut sebagai hutan, karena sepanjang yang aku lihat, tidak ada lagi tingkat kerapatan kayu dengan tutupan pohon pohon besar. Kayu-kayu besar kualitas ekspor telah habis ditebang pada masa keemasan illegal logging.

Dan yang tersisa hanyalah kayu-kayu kecil, ditumbuhi belukar, dan sebagiannya lagi, lahan yang telah ditebang bakar untuk ladang karet penduduk, dihubungkan fasilitas jalan beton setapak yang dibangun pemerintah setempat, membelah “hutan” menuju ladang karet penduduk. Tentunya pemerintah mempunyai alasannya sendiri. Semua akan membantu tingkat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan.

Kalaupun sekarang tetap ada penebangan hutan/illegal logging oleh masyarakat desa, itupun dengan jumlah terbatas dan dilakukan penuh hati-hati, ditengah petugas kehutanan yang masuk kelokasi dan diumbuk dengan uang rokok alakadarnya. Seperti yang digambarkan pemain kayu yang kutemui dilokasi “ sekarang ini kalau terlalu berani pasti mati masuk bui, tapi kalau terlalu takut, pasti mati karena tidak makan “. Karena harus juga diakui, pelarangan illegal logging menimbulkan problematic kemiskinan ditingkat penduduk setempat.

Pada deretan selanjutnya hutan yang tersisa dan belum terjamah adalah hutan payau yang tak dapat dimanfaatkan penduduk untuk ditanami karet serta ketidaan sumber daya untuk memanfaatkannya. Dan yang tak kalah penting, besarnya potensi konflik kepemilikan lahan karena urusan batas wilayah administrasi desa serta batas kepemilikan individu.

Pada tingkat kepemilikan komunal dan kepemilikan individu, konflik masih saja terjadi. Pada tingkat komunal, walaupun sebenarnya batas wilayah telah diatur sebagai mana disebutkan di dalam tambo tradisi dan diputuskan secara lebih kuat didalam keputusan pemerintah setempat. Namun realitas dilapangan, apa yang disebutkan didalam ketentuan baku tersebut tidak dapat dijadikan patokan bersama, karena yang ada baru pada tingkatkan batas imajiner dikepala. Yang pada suatu saat bisa kembali tersamar ketika tetua kampung yang mengetahui letak batas dilapangan meninggal dunia dan tidak sempat mentransfer pengetahuan imajiner dan lapangan kepada penerusnya di desa.

Dan yang lebih naasnya lagi, ketika orang dari dua wilayah desa berbeda, mempunyai batas imajiner yang sama, tapi berbeda pengertian dalam menafsirkan batas imajiner sebagaimana disebutkan didalam tambo tradisi. Sebagai misal disebutkan salah satu batas wilayah antar dua desa adalah tampi-tampi. Satu pihak mengkonsepsikannya dilapangan sebagai sebuah anak sungai dan pihak desa lain justru mengkontruksinya sebagai sebuah kayu yang tumbuh diatas tanah sematang/tinggi/daratan.

Jelas saja ini menjadi suatu masalah, karena tidak terdapat kesamaan konsepsi tentang batas imajiner. Dan yang terjadi bisa saja masyarakat dari dua desa menempuh jalan kekerasan, mengeluarkan parang dan kecepek bertumpahan darah memperebutkan tanah harapan dengan dasar kebenaran pengetahuan masing-masing. Ketegangan serupa ini sempat terjadi, tapi tidak sampai pada pertumpahan darah. Belakangan terdengar juga kasak kusuk ditengah masyarakat desa, yang mempersoalkan keberadaan komunitas transmigrasi jawa dalam wilayah desanya, telah terlalu jauh membuka lahan, sebagaimana diatur dalam peruntukan tata ruang transmigrasi.

Permasalahan batas wilayah desa, secara dominan muncul kepermukaan, manakala investor datang untuk berinvestasi dalam penggelola dan pemanfaatan hutan/lahan. Semestinya porsi ini menjadi pekerjaan pemerintah daerah dengan melibatkan partisipasi investor dan terutama kelompok/individu kepentingan lainnya di desa. Karena dengan adanya investor tadi, konflik batas wilayah desa yang bersifat laten menjadi lebih muncul kepermukaan dengan motif beragam, terpaksa mesti diselesaikan atau malahan justru terbantu untuk diselesaikan. Hakikatnya secara politis pihak investor akan tunduk pada ketentuan administartif sebagaimana ditetapkan pemerintah setempa.

Sedang pada tingkat individu, konflik kepemilikan tanah, tampaknya lebih disebabkan oleh keserakahan terhadap tanah dan semakin menipisnya ketersediaan lahan kosong untuk dikelola dan penyebab lainnya bisa beragam, termasuk riwayat kepemilikan tanah yang dapat dirunut menjadi tanah hasil buka tebang bakar, tanah waris dan tanah berdasar jual beli. Sedangkan pada kasus lain, lahan tanah yang telah lama ditinggalkan tidak digarap, kemudian secara perlahan sedikit demi sedikit dibuka dan dikuasai pihak sebelah.

Sedangkan untuk lahan payau yang menjadi pemisah atau terletak diantara dua tanah daratan dengan kepemilikan individu yang berbeda, sebenarnya adat telah mengatur pembagiannya. Tanah payau dibagi dua bagian sebelah menyebelah sama rata. Namun terkadang ketentuan inipun dilanggar, sehingga yang terjadi adalah sengketa tanah tak berkesudahan.

Sejauh yang ku ketahui, kasus perdata tanah begitu banyak disidangkan di pengadilan negeri kabupaten Simpang Bukit. Satu waktu lalu, aku sendiri beserta istri sempat beberapa kali mengikuti persidangan gugatan perdata tanah yang cukup melelahkan. Saat itu aku menyaksikan, walaupun dipisahkan wilayah administratife desa, kasus tanah dapat merusak hubungan kekerabatan diantara satu garis keluarga besar, diantara dua pihak keluarga yang bersengketa. Sebagaimana diketahui hal inipun terjadi dikampungku.

Pada waktu pertama kali menyaksikan “hutan” dirubuhkan bulldozer dan excavator untuk ditanami kelapa sawit, jauh didasar hatiku, berkata ini suatu kekeliruan, karena hutan yang tidak seberapa lagi tersisa itu akan digantikan pokok-pokok tanaman kelapa sawit, dan secara pasti kicau burung akan hilang dengan sendirinya. Sedang pada sisi lain, penduduk desa, para petani karet justru berpendapat pembukaan hutan yang tersisa membantu mengurangi hama binatang, musuh utama tanaman. Dimana monyet simpay dan babi menjadikan hutan sebagai sarang sekaligus karet sebagai tempat bergelayut dan sumber makanannya.

Tapi anehnya secara perlahan seiring waktu, rasa bersalah itu mulai hilang, ketika aku berusaha berkompromi dengan diri sendiri, bahwa hutan yang terbuka tadi akan benar-benar menjadi tanah harapan, berubah menjadi pokok – pokok duit, dan mengangkat masyarakat dari kemiskinan, sebuah momok zaman, sebagaimana dicerita seorang penduduk. Dan itu tergambar jelas dari riwayat kepemilikan tanahnya, diperdapat dari orang tuanya, yang menukarkan tanah penduduk desa tetangga dengan garam dan beras pada masa lalu, dan itu dibuktikan dengan selembar surat bermaterai dalam ejaan lama dan ditanda tangani oleh kedua belah pihak. Riwayat kepemilikan tanah seperti ini, bukan saja dimiliki oleh dirinya sendiri, tapi juga oleh penduduk lainnya.

Untuk pikiran itu aku mesti bekerja sebaik mungkin, agar pokok duit tadi tidak berubah menjadi pokok masalah dikemudian hari, karena proses kerjasama kemitraan pembangunan kebun tidak berjalan sesuai pola yang disepakati, ada satu pihak merasa dibohongi dan dirugikan. Aku pikir ini bukan menjadi tanggung jawab pribadiku saja, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif untuk mewujudkannya.

Bagian menarik lainnya untuk kuceritakan yaitu manakala, aku terkejut melihat sungai tempatku sehari-hari menyeberang ke areal perkebunan dialiri air coklat butek, potongan kayu berserakan dipingir dan ditengah badan sungai, sepertinya sungai bara, sebut saja begitu namanya, mengalami pendangkalan dan kerusakan ekosistem. Aku sendiri memastikan tak ada ikan yang berani hidup disitu. Selidik punya selidik, dari keterangan penduduk diketahui,kejadian ini diakibatkan kegiatan dompeng tambang emas dihulu sungai dan sebagiannya lagi dilakukan dengan menaikan kandungan dasar tanah keatas permukaan dengan mesin besar, menimbulkan lubang, kolam menggangga disana sini.

Beberapa waktu lalu masyarakat setempat pernah menawarkan agar areal bekas dompeng bisa dirubah dan dimanfaatkan menjadi areal perkebunan kelapa sawit oleh perusahaan. Tapi setelah dinilai kelayakannya secara teknis dan biaya, sangat berat untuk direkomendasikan. Kegiatan dompeng, sebenarnya sangat dilarang pemerintah setempat, tapi masyarakat setempat maupun masyarakat pendatang yang sengaja datang untuk mencari emas tetap saja tak terhentikan.

Dari kisah sejarah para penambang emas, kuketahui sepenggal sejarah budaya asalku ditempat ini. Ternyata menurut cerita sejarah yang kudapat berasal dari pasukan Datuk Katemangungan Minangkabau, yang bermigrasi karena alasan lari dari peperangan, sebagiannya masuk kedalam hutan, dan kemudian menyebut dirinya sebagai Orang Rimba. Rombongan lain datang untuk alasan mencari emas, menjadi penambang emas ditanah harapan dan kemudian dikenal penduduk setempat sebagai komunitas Penghulu yang hidup berdampingan dengan komunitas setempat dengan cara yang berbeda dengan negeri asalnya. Dimana semuanya bergantung pada tanah harapan yang mulai menipis, diperebutkan banyak pihak atas nama beragam kepentingan serta pengharapan. Sumber:www.kabaridonesia.com